Selasa, 12 Juli 2011

Syech Qurotul'Ain (Syeh Quro)

Catatan Ziarah ke SYECH QURO
Sejarah
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Karawang
Ziarah
Ziarah ke Syech Qurotul’ain atau biasa disebut Syech Quro biasanya dilakukan oleh masyarakat Karawang dsk pada malam sabtu. Mulai ba’da isya masyarakat berbondong-bondong menuju makam syech Quro. Acara puncak dimulai pada pukul 24 dipimpin oleh sesepuh juru kunci dan berakhir pada pukul 2 dini hari.
Sedangkan haul syech Quro jatuh pada malam sabtu terakhir bulan Sya’ban. Biasanya pada acara haul akan diundang penceramah dan qori tingkat nasional.
Hari2 lain yang cukup ramai adalah malam jum’at, malam senin, dan malam selasa.
Pada bulan Maulud kadang2 ada rombongan ziarah dari keraton Cirebon, keraton banten, keraton Demak, keraton Ternate Tidore, dll.

Lokasi
Lokasi makom syech Quro berada di desa Pulobata  kecamatan Wadas kabupaten Karawang.
Jika dari arah Jakarta, keluar tol Karawang Timur, ke kanan ambil arah Cikampek. Kira2  5 km kemudian ketemu pasar kosambi, lalu ambil arah kiri tujuan Telaga sari (ada perlintasan kereta api). Setelah 15 km, ketemu daerah Pasir dan pasar turi, ambil kearah kanan tujuan Wadas. 5 km kemudian akan ketemu pasar wadas lemah abang, lurus saja terus sampai ketemu pertigaan dengan penunjuk arah makam syech quro di sebelah kiri jalan.
Jika dari arah Bandung sebaiknya keluar tol Dawuan Bukit Indah menuju arah Karawang.
Jika dari arah Cirebon atau Pantura, lebih dekat dari arah Cilamaya.
Koordinatnya : 06° 15' 101" Lintang Selatan dan 107° 28' 900" Bujur Timur.

Keramat2

Ayah Ji’in Sumaredja
Sebelum memasuki areal makam Syech Quro ada baiknya kita ziarah ke salah satu penemu makam syech Quro yaitu Ayah Ji’in Sumaredja yang terletak di depan kantor desa Pulo kalapa. Untuk menemukannya cukup mudah karena di depan halaman kantor desa Pulokalapa di sebelah kiri jalan ada patung besar buah kelapa.

Di makam syech Quro, ada beberapa makam dan petilasan keramat yg penulis ketahui (mohon ditambahkan jika masih ada) a.l :
Makam syech Bentong atau syech Gentong yang merupakan murid syech Quro, terletak di belakang makam Syech Quro. Di areal makam syech Bentong/Gentong terdapat petilasan yang menurut riwayat tempat syech Bentong mengubur kitab2 syech Quro.

Sumur keramat tempat wudhu syech Quro, terletak didepan gerbang utama makam syech Quro.
Sumur tempat mandi, ada 3 tempat, 1 di bagian dalam yang sekarang dipakai untuk tempat MCK dan wudhu, dan 2 di bagian luar yang khusus untuk mandi saja, penulis sendiri tidak tahu apakah ini sumur keramat atau sumur baru.
Adapun tempat wudhu di mesjid menurut pengurusnya adalah tempat baru, bukan petilasan.

Kambing keramat, adalah kambing2 yang ada di areal makam syech Quro yang merupakan sumbangan dari para peziarah yang berhasil mencapai maksud. Kambing2 ini biasanya akan disembelih pada saat acara mauludan, haulan, dll. Lucunya kambing2 ini makan apapun makanan yg diberikan peziarah, termasuk jika diberi sebatang rokok, langsung dikunyah heuheuheu, pilih2 ga ya rokoknya, jinggo sama sokam (Jisamsu)? Heuheuheu.
Masyarakat sekitar meyakini untuk tidak coba2 mencuri atau melukai kambing ini karena sering kejadian pencuri menjadi gila dan yang melukai ditimpa musibah. Iyalah,  nyuri ayam aja pasti babak belur kalo ketahuan.

Kolam petilasan Prabu Siliwangi.
Dari beberapa buku sejarah (lihat link sejarah), memang ada ikatan antara Prabu Siliwangi dan Syech Quro yaitu istri Prabu Siliwangi bernama Nyai Subang Larang atau Subang Krancang merupakan murid dari Syech Quro. Dari Nyai Subang Larang ini mempunyai beberapa anak diantaranya Prabu Kian Santang yang setelah memeluk islam bergelar Sunan Rohmat (makamnya di Godog Suci-Garut).
Kolam petilasan Prabu Siliwangi terdapat di belakang samping makam syech Quro melalui jalan menuju kamar mandi dan kakus. Kolam ini menurut riwayat kuncen dan dari keterangan salah seorang kyai sepuh dari Purwakarta, terbentuk ketika Prabu Siliwangi tengah dicukur rambutnya tiba2 didatangi oleh anaknya yaitu Prabu Kian Santang (Sunan Rohmat) yang mengajak ayahandanya untuk memeluk islam. Prabu Siliwangi menolak masuk islam sambil menjejak ke tanah untuk melarikan diri, sehingga terbentuk lobang besar yang kemudian menjadi kolam.

Pohon Tin keramat, terdapat disamping kiri makam yang menurut riwayat dari para kuncen bibitnya dibawa oleh syech Quro dari Mekkah untuk manandai areal pesantrenan dan makomnya. Pohon ini terlihat jika kita masuk dari pintu samping makam melalui areal masjid. Keberadaan pohon tin ini informasinya saya peroleh dari seorang penulis lepas harian islam yg pernah berkunjung ke rumah penulis.

Menurut keterangan yang penulis peroleh dari para kyai sepuh, di makam Syeh Quro juga ada petilasan walisongo dan Syeh Siti Jenar, Subang Krancang, dan petilasan Kian Santang ketika disunat, namun mohon maaf saya belum tahu lokasi tepatnya apalagi riwayat dan sejarahnya. Mudah2an ada teman2 yg lebih tahu tempatnya.

Kepercayaan2 Peziarah
Para peziarah terutama masyarakat Karawang dsk mempercayai bahwa jika berziarah ke syech Quro dengan istiqomah maka Insya Alloh tercapai apa yang menjadi hajatnya khususnya bisa pergi haji. Adapun jumlah hitungan ziarahnya bervariasi, umumnya 41x, 21x, adapula yang 70x.

Jika mampu tirakat selama 7 hari di makam Syech Quro maka Insya Alloh keluar dari kesulitan terutama masalah ekonomi. Tirakat ini cukup berat sehingga harus dengan bimbingan seorang guru melalui pengijazahan dan didampingi oleh kuncen.

Lain-lain

Pulo Masigit adalah nama mesjid dan pesantren syech Quro yang ghoib atau hilang akibat doa syech quro karena menghindari gangguan penjajah. Menurut para kuncen dan sesepuh makam, pada saat2 tertentu makam Syech Quro sering didatangi peziarah yang tidak jelas asal usulnya dan tidak jelas kemana pulangnya. Menurut para kuncen dan keyakinan  penduduk sekitar mereka adalah murid2 syech Quro dari bangsa jin muslim, Wallohua’alam.

Pulobata sebetulnya adalah petilasan bukan makam. Dinamakan pulo bata karena sewaktu pertama kali ditemukan oleh Ayah Ji’in Sumaredja yang berasal dari cirebon, maka makamnya merupakan tumpukan bata2. Tumpukan bata2 ini menurut para kuncen adalah tempat zikir, sholat, dan kholwat syech Quro dimana sewaktu-waktu dengan izin Alloh SWT syech Quro pergi ke Mekah untuk sholat, sehingga tidak aneh jika banyak peziarah percaya bahwa siapa yang istiqomah ziarah ke makam syech quro akan bisa pergi ke Mekkah untuk beribadah haji, Insya Alloh.
Dahulunya Pulobata adalah daerah pesisir pantai yang banyak ditumbuhi pohon kelapa sehingga sebelumnya dinamakan Pulokalapa. Menurut riwayat, asal muasal syech Quro menetap di pulokalapa adalah karena kapalnya karam/rusak maka syech Quro beserta rombongnnya akhirnya mendarat dan menetap di daerah ini.
Kemudian dengan doa beliau yang makbul maka pulokalapa akhirnya menjadi daratan.

Tasbih Kayu
Di sekitar makam dan area parkir sering ditemukan pohon kayu yg mati. Pohon kayu yang hanya tumbuh di areal makam, oleh beberapa kuncen dimanfatkan menjadi tasbih dengan melalui olah dan laku spiritual tertentu. Jika beruntung kita bisa mendapatkan tasbih ini dengan mahar kekeluargaan. Penulis bahkan pernah diberi tasbih kayu berukuran besar oleh seorang kuncen yang masih keturunan Ayah Ji’in Sumaredja secara cuma2 walaupun awalnya tanpa sebab tertentu penulis dimarahi oleh sang kuncen dengan bahasa yang tidak dimengerti.

Pengalaman Ziarah
Sekitar tahun 1995 an penulis yang bukan orang karawang asli tp tinggal di karawang, pertama kali mendengar tentang makam Syech Quro. Suatu saat penulis bersama keluarga menggunakan mobil pribadi pulang dari kondangan melewati areal makam, sambil berucap dalam hati: “Yaa Alloh tunjukanlah kepadaku kalo ini makam keramat, sehingga aku bisa menziarahinya dan mendapat berkahnya”.
Tiba-tiba, Brakk!! As roda belakang mobil patah!! Padahal jalan relative mulus dan penumpang hanya 5 orang. Dalam keadaan bingung akhirnya penulis pergi ke wartel dan menghubungi mertua untuk menjemput anak dan istri. Setelah anak istri pulang, penulis pergi mencari mekanik yang direkomendasikan oleh mertua. Sebelum pergi, penulis titipkan mobil ke anak2 kecil yang sedang bermain di halaman parkir makam sambil diberi sedikit uang dengan niat sodaqoh. Begitu kembali ke makam dengan membawa mekanik, penulis kaget karena anak2 tidak ada, yg ada hanya 3-4 kambing yang sedang “menunggui” mobil, masa sih anak2 ini berubah jadi kambing, atau malah kambing2 ini minta sodaqoh nungguin mobil juga heuheuheu. Ada lagi keanehan lain, setelah lebih dari 1 jam mekanik menyerah dan bilang As roda yg patah ga bisa dibuka/dicabut, macet!! Duh gusti ada apa ini? Hati kecil mengatakan, “sholat ashar lalu ziarah”. Mudah2an ini petunjuk Alloh. Setelah sholat ashar dan ziarah sambil membawa air keramat, disiramkanlah air tsb ke mobil dengan mengharap keberkahan.
Alhamdulillah, sampai mekanik terheran-heran karena semua baud2 mudah dibuka.
Dari peristiwa itulah penulis timbul keyakinan akan kekeramatan makam Syech Quro.

Setelah peristiwa tsb selama 3 hari berturut penulis bermimpi dijumpai orang tua (syech) sambil menunggang kuda menyuruh naik ke tumpukan bata, dengan niat berguru mencari keberkahan ilmu. Akhirnya penulis bertanya ke seorang kyai di sekitar tempat tinggal mengenai makna mimpi tsb. Dari kyai tsb diperoleh keterangan bahwa penulis dianjurkan ziarah ke makam syech Quro di pulobata dengan niat berguru atau mencari keberkahan khususnya keberkahan ilmu dengan jumlah ziarah tidak terbatas. Aneh, ko berguru sih? bukankah syech Quro sudah wafat? Ah, namanya juga tukang ziarah, langsung saja penulis niatkan ziarah.

Kejadian-kejadian aneh selama ziarah

Mimpi dibawa (memegang jubahnya) Syech Quro ke Mekkah dan Madinah untuk berhaji bersama ke-2 orang tua penulis yg memang pada saat itu sedang menunaikan ibadah haji. Dalam mimipi tsb, pada saat di Madinah, saya diperlihatkan sebuah makam panjang bertuliskan Syech Hasanudin yg pusaranya bertabur batu permata berwarna hijau. Apakah ini makam jasad Syech Quro? Wallohu A’lam.
Sepulang haji, Ibunda saya bercerita bahwa sewaktu berhaji beliau pingsan karena terjatuh ketika selesai wudhu lalu dalam keadaan setengah sadar mendengar suara saya yg menenangkan beliau dg bahasa sunda yg sangat beliau kenal, lalu dibopong ke tempat yg aman. Ayahanda penulis bercerita bahwa beliau sewaktu tawaf melihat penulis dengan seorang syech sedang tawaf tapi setiap hendak dipegang selalu tidak kena. Subhanawlooh!! Luar biasa hebatnya karomah Syech Quro, sehingga saya yg hanya ziarah saja sambil mendoakan ke-2 orangtua yang sedang berhaji ternyata berkat keberkahan Syech Quro, Alhamdulillah Alloh menurunkan pertolonganNya.

Dicegat Hantu di tengah jalan
Kejadian ini sewaktu penulis bersama rombongan ziarah menggunakan motor, di tengah jalan sekitar Wadas dicegat hantu berbaju putih muka pucat, rambut putih awut2an, berjalan dari tengah ke kanan dan ke kiri berusaha menghalangi jalur motor rombongan. Semua rombongan mengucap istighfar dan berhenti, semua tercekat!! Hantu diam menunggu, rombonganpun diam menunggu!! Dalam keadaan mencekam tsb, tiba2 penulis berteriak dalam hati“ Yaa Alloh, Yaa Syech Qurooo, tolong kami”
Alhamdulillah, hantu langsung loncat melesat ke tengah sawah. Aneh, ko minta tolong sama yg sudah wafat, ah ga usah bingung yang penting selamat, mungkin hantunya takut digebugin santri2nya Syech Quro kali, heuheuheu.
Atau, kayaknya hantu itu kepingin dibonceng, begitu tahu boncengan sudah penuh akhirnya kabur nyari ojeg, heuheuheu. Hiiih serem.

Lembaran Qur’an melayang di makam Syech Quro
Pada suatu waktu penulis mengantar seorang ibu yg akan tirakat (menginap) di makam Syech Quro. Setelah ziarah dan menitipkan si ibu kpd pak Nanang (beliau ini pedagang yg jd sahabat penulis), penulis terus pulang. Seminggu kemudian setelah selesai tirakat si ibu datang ke rumah dan bercerita bahwa dia mendapat lembaran quran ketika sedang zikir di makom. Lembaran qur’an tsb melayang2 dan turun di depan si ibu, beberapa orang di sekitar si ibu tsb berusaha mengambil, tapi semua jatuh terjengkang, akhirnya lembaran qur’an tsb diambil oleh si ibu tsb. Sewaktu si ibu mau pulang, kebetulan ada seorang penulis lepas majalah islam yg ingin ikut ke rumah. Di rumah, sang wartawan memfoto lembaran qur’an tsb dan berkali-kali gagal. Akhirnya saya meminta izin melalui tawasul ke syech quro untuk memfoto lembaran qur’an tsb. Alhamdulillah akhirnya bisa difoto, dan kemudian diterbitkan di majalah islam (Hidayah?).

Hujan batu akik
Sebelum ziarah biasanya penulis mampir ke warung pak Nanang untuk silaturahmi sekalian istirahat sambil ngopi. Pada waktu itu di warung sudah ada rombongan lain yg sedang ngobrol. Salah seorang pemimpinnya berkata kepada temannya: “Semua keramat Syech Quro sudah saya sedot, ini batu pusakanya sudah saya miliki”. Masya Alloh, hebat sekali orang ini, fikir penulis, sambil duduk agak jauhan dari orang tsb (ngeri, karena takut disedot juga heuheuheu). Tapi, masa sih kekeramatan dan keberkahan diukur dengan sebuah batu akik? Halahh, masa bodoh, namanya juga tukang ziarah, yg penting niat ziarah saja heuheuheu.
Setelah selesai ziarah sekitar jam 1 malam penulis berniat hendak pulang, tapi tiba2 perut mules ga ketahan, akhirnya penulis minta teman2 rombongan nunggu di parkiran karena penulis mau ke WC yg ada di mesjid. Di halaman masjid, tiba2 trak! trak!, klotak, trak trak trak! Pletak pletak bralaaak!! Hah, Masya Alloh ratusan batu akik berserakan dari yg warna hijau, biru, merah, putih dsb, beberapa terinjak dan mengenai badan penulis, ada yg terasa hangat, panas, dingin, wangi. Penulis bingung harus bgmn, apalagi suasana sepi, akhirnya diam dan berdo’a “Yaa Alloh, Yaa Syech Quro, harus kuapakan batu2 ini? Lalu penulis naik ke undakan/tangga mesjid berniat pergi ke WC, begitu mau mau masuk WC sambil melirik ke arah batu2 , ternyata batu2 tsb sudah lenyap!! Menyesalkah? Ah tidak juga. Hajatku kan ke WC buang hajat, bukan nyari batu akik heuheuheu.

Mak Ijah meninggal
Setiap ziarah saya usahakan menyempatkan ketemu mak Ijah, beliau adalah pengemis tua yg sudah lama menetap di makam, tidak ada yg tahu kapan beliau mulai menetap di makam. Suatu waktu ketika sedang ngopi, mak Ijah mendekatiku dan memulai obrolan masalah sholat. Beliau menjelaskan mengenai Takbirotul Ihrom. Lalu diakhiri dengan pertanyaan beliau “Apakah ketika mengucapkan takbirotul ihrom, kamu itu hidup atau mati? “Besok2 kalo kamu kesini mak Ijah sudah tidak ada, sudah pindah”. Aku ga bisa jawab pertanyaannya, malah balik nanya” Pindah kemana mak? Fikirku paling2 pindah lokasi mengemis. Jawab mak Ijah: “Kumaha Alloh nu Maha Agung (Terserah Alloh yg Maha Besar)” sambil tangannya disedakepkan di perut seperti orang solat. Beliau terus ngeloyor pergi.
Beberapa minggu kemudian ketika aku ziarah lagi kesana, aku dapat kabar dari pak Nanang bahwa mak Ijah telah wafat tidak lama setelah ziarahku yg terakhir. Innalillaahi WIR. Kok bisa ya, tahu kapan mau wafat? Halahh, ga usah bingung, namanya juga tukang ziarah,  ya ziarah saja heuheuheu.

Berkelahi dengan Ular Siluman
Pada suatu waktu penulis mengantar seorang pemuda pengangguarn mantan preman kampung (sebut saja mang Ujang) yg akan tirakat (menginap) di makam Syech Quro. Dia ingin tirakat karena menurutnya penghasilan preman sekarang tidak tetap, banyak potongan, banyak palakan dan gangguan dari oknum aparat. Lho kok preman dipalak? Namanya juga preman kotok (kampungan sekali). Setelah ziarah dan menitipkan mang Ujang kpd pak Nanang, penulis terus pulang. Beberapa minggu kemudian mang Ujang datang ke rumah dan bercerita bahwa  antara sadar dan tidak dia telah berkelahi dengan ular ketika sedang zikir sampai ketiduran di dalam goa akar pohon di dekat makam Syech Bentong. Alhamdulillah ular dapat dikalahkan.
Untuk membesarkan hati mang Ujang saya bilang bahwa ular besar itu lambang sifat preman mang Ujang, Insya Alloh mang Ujang akan mendapat keberkahan. Jawab mang Ujang”Amiin, Alhamdulillah pak sekarang saya jadi calo sekalian jualan air minum gelas dan rokok ke sopir2 angkot, yaah jualnya rada2 maksa sedikit sih pak, rada2 halal dibanding dulu”. “Alhamdulillah, syukur atuh mang, asal jangan jual beli ular saja ya, terusin ziarahnya ya” Jawab saya. Dalam hati saya “Dasar mantan preman kotok, tetep saja kotok”, heuheuheu. Don’y try this at home

Kejadian2 lucu dan memalukan
Selain kejadian2 aneh adapula kejadian2 lucu dan memalukan, yg tentu saja tidak semuanya akan penulis ceritakan disini…namanya juga memalukan, ya aiblah broow heuheuheu.

Batu akik super
Kambing2 keramat di makam memang bukan kambing biasa, maksudnya kebiasaanya itu lho, kalo malam kambing2 ini tidurnya di atas meja lapak pedagang bunga yg sudah tutup. Suatu ketika penulis niat ziarah dan melekan (tidak tidur) sampai subuh. Setelah selesai ziarah sekitar jam 3 lewat sambil menunggu subuh, saya sandaran di tembok emper samping mesjid. Didepan saya samar2 ada meja lapak dan seekor kambing. Tanpa terasa ngantuk menyerang, sampai hampir tertidur. Tiba2, Klotak klotak! Gleduk gleduk! Pluk Pluk Pluk. Saya langsung terbangun, sambil nahan kantuk “Hmm, ini batu akik lagi nih, mantaap,berkah nih bisa dipake ajimat melet Nikita Willy” fikirku sambil mendekati  tumpukan batu akik yang berserakan di bawah dekat meja lapak, “Bentuknya kok aneh, aromanyanya juga aneh, jangan2 ini batu akik super”. Setelah diperhatikan dg teliti, ternyata ehh ternyata tai kambing!! wueuheuheuheu. Langsung pergi ke kamar mandi, “Batu akik hitam tapi lembek, aromanya menyengat, pusakanya kambing sialan” teriakku dalam hati. Di kamar mandi saya masih menggerutu, “Orang lagi melekan, ditipu sama kambing, dasar kambing ga punya otak”. Untung kambingnya ga jawab : “Melekan ko malah molor, bukannya zikir, dibangunin malah marah, dasar manusia punya otak ko ga dipake”. Heuheuheu, Iya juga ya, Maaf ya bing aku ketiduran.

Mimpi dengan bidadari galon air
Kejadian ini dialami oleh teman saya (sebut saja mang Ipung) sewaktu saya antar untuk menamatkan ziarah. Setelah selesai ziarah untuk yg menamatkan biasanya terus melekan, tapi mang Ipung memang terkenal jago pelor alias nempel molor. Baru jam 1 malam sudah sempoyongan, akhirnya tertidur di pojok mesjid. Sebelum subuh dia bangun dan cerita, bahwa dia mimpi bersetubuh dengan wanita buruk rupa dengan (maaf) susunya sebesar galon air mineral, dia ditindih dan dipaksa menghisap “gallon air” tadi sampai tersedak-sedak, heuheuheu. Yang membuat semua teman2 tertawa adalah cara mang Ipung mempraktekan bersetubuh sambil menghisap “gallon air mineral”. Heuheuheu. Ada temen yg nyeletuk, “Susunya aja sebesar gallon air, apalagi ‘anunya” …..Huss jangan ngeres, pamali!!
Ba’da solat subuh saya bilang ke mang Ipung, itu gambaran dunia, Insya Alloh kamu akan jadi orang kaya, sambil diamini oleh semua. Sebenarnya saya hanya menghibur dan mendoakan mang Ipung saja yang terlihat begitu ‘terpukul’ setelah mimpi tsb, mungkin mang Ipung berharap mimpi dengan bidadari sorga, ternyata yang datang hantu wewe gombel gallon air heuheuheu, hantu spesies baru nih.
Alhamdulillah mang Ipung sekarang usahanya sudah sukses, tapi bukan jualan air galonan tentunya, heuheuheu.

Susahnya Sholat Khusyu
Sebelum berangkat ziarah kami mengikuti pengajian Kyai Dimyati, yg menerangkan mengenai solat dan betapa sulitnya solat khusyu. Selesai pengajian, kira2 jam 22.00 langsung berangkat ke tempat ziarah. Kali ini pake mobil, ditengah ziarah kami ngobrolin soal sholat khusyu, butuh 1 jam untuk sampai ke tempat ziarah.
Seperti biasanya kami berniat solat isya berjamaah dulu di mesjid Syeh Quro. Di dalam mesjid banyak peziarah yg tidur di pojokannya. Kami memilih sholat didekat mimbar/imam. Baru saja mulai takbirotul ihrom tiba2: “Werrr Werrr  Ngrook Ngrook!!... Werrrr Ngroook, Werrrr Ngroook!! Suara orang ngorok sangat2 keras. Semua tertawa tertahan, solat batal, ada yg nyeletuk “Ini ngorok apa heller (mesin penggilingan padi)”, yg membuat kami semakin ter-bahak2 dan tidak bisa solat. Karena suara ngorok terus menerus mengganggu kami, akhirnya diputuskan solatnya sehabis ziarah saja,. Selesai ziarah langsung ke mesjid untuk solat isya. Alhamdulillah suara ngorok sudah tidak ada, kami langsung cari posisi untuk solat berjamaah, roka’at 1, 2 aman. Masuk roka’at 3 tiba2… Brooot!! Brooot!! Langsung tercium aroma bau sangat busuk dari pojokan. Imam terpengaruh, tangan dan kepala mulai geleng2 spt gerakan triping, salah seorang ma’mun yg paling dekat dengan sumber bau busuk tumbang sambil nyeletuk “Ieu jalma ngadahar bangke beurit santung sugan” (Ini orang makan bangkai tikus got kali) wueheuheuheuheu, Imam tumbang, ma’mum bubaar, solat kembali batal. Masya Alloh beratnya solat khusyu.
“Yaa Alloh lindungilah kami dari godaang ngorok dan kentut yg terkutuk”
“Yaa Alloh ampuni kami yang bodoh dan lalai ini”

Sedikit Nasihat
Niatkanlah dari rumah untuk berziarah dan bersilaturahmi kepada Syech Quro sebagai Waliyulloh dengan mengharap keberkahan dunia dan akherat serta mengharap pertolongan Alloh SWT dari berbagai permasalahan.

Untuk para pelaku tarekat dan pencari ilmu tambahkanlah juga dengan niat mencari keberkahan dari ilmu Alloh SWT yang diberikan kepada Syech Quro.

Sebelum ziarah lakukanlah dahulu solat sunat 2 roka’at di mesjid Syech Quro.
Biasanya para juru kunci hanya membacakan ikrar ziarah didepan makam, maka selanjutnya lakukan tawasul sendiri. Bagi para peziarah yang akan mukim/menginap atau mempunyai waktu luang maka setelah ziarah beritikaplah di mesjid sambil zikir dan tafakur, ditutup dengan do’a.
Jagalah adab dan tatakrama ziarah. Saat ziarah janganlah menggunakan pengeras suara atau zikir dengan suara sangat keras secara berlebihan sehingga mengganggu yang lain, karena penulis pernah melihat langsung akibatnya (kesurupan, motor yg di parkir bergulingan, mobilnya mogok, berkelahi dengan sesama teman, dll).

Bagi peziarah yang akan mukim menginap, sebaiknya lapor dahulu ke pengurus makam.


Teman2 demikian sedikit catatan ziarah ke Syech Quro, mudah2an bermanfaat. Maaf foto2nya belum ketemu, termasuk foto lembaran Qur’an.

Salam
Nurahmad

3 komentar:

  1. pernah baca dalm sejarah kota karawang,,,itu hanya maqom (tempat singgah) syeh Quro tp bukan makamnya,,itu benar tidak?? trus kita ziarah ke siapa kalo datang ke situ?? :)

    BalasHapus
  2. salam ... waktu kuliah.... ktk itu saya masih wahabi.. saya mimpi seorang kakek2 pake caping berkata : lamun erek nyempurnakeun spiritual ( klo ingin nyempurnakan spiritual, ) datang ka pulobata.... ( datang ke pulobata )... saya kemudian cari tahu ttg pulo bata... sampe akhirnya saya ke syeh quro dan seirng kesana hingga saat ini... saya juga punya pengalaman batin ( spiritual) ... dulu saya masih menganggap tuhan ALlah itu bertempat, duduk di arasy sbgmn keyakinan wahabi umumnya. suatu saat di makam syeh quro.... saya tiba2 seperti sadar bahwa tuhan itu mustahil bertempat.... kalo tuhan bertempat, maka tempat tuhan mestilah lebih besar dari tuhan... maka mustahil ada yang lebih besar dari tuhan..,. tuhan itu melingkupi ciptaanNya... dan perlahan2 dari hari ke hari saya mulai menyadari dan merasakan keberadaan tuhan... dan mulai faham konsep wahdatul wujud... sebuah faham yang dibawa syeh quro ke indonesia dan diajarkannya pada syeh siti jenar. .. alfatehah untuk mereka,..

    BalasHapus
  3. salam ... waktu kuliah.... ktk itu saya masih wahabi.. saya mimpi seorang kakek2 pake caping berkata : lamun erek nyempurnakeun spiritual ( klo ingin nyempurnakan spiritual, ) datang ka pulobata.... ( datang ke pulobata )... saya kemudian cari tahu ttg pulo bata... sampe akhirnya saya ke syeh quro dan seirng kesana hingga saat ini... saya juga punya pengalaman batin ( spiritual) ... dulu saya masih menganggap tuhan ALlah itu bertempat, duduk di arasy sbgmn keyakinan wahabi umumnya. suatu saat di makam syeh quro.... saya tiba2 seperti sadar bahwa tuhan itu mustahil bertempat.... kalo tuhan bertempat, maka tempat tuhan mestilah lebih besar dari tuhan... maka mustahil ada yang lebih besar dari tuhan..,. tuhan itu melingkupi ciptaanNya... dan perlahan2 dari hari ke hari saya mulai menyadari dan merasakan keberadaan tuhan... dan mulai faham konsep wahdatul wujud... sebuah faham yang dibawa syeh quro ke indonesia dan diajarkannya pada syeh siti jenar. .. alfatehah untuk mereka,..

    BalasHapus